Sabtu, 11 Desember 2010

di mataku

Kicau burung menangkis petikan angin yang perlahan patahkan dingin
Di pagi yang penuh kabut dan intip wajah malu mentari timur, 
si jalak bali berkolaborasi dengan kutilang jantan sambut hariku tuk aku peluki jelajah bumi
Lewati belukar bergambar sangar, 
tak hiraukan sekalipun harus tembus sisik punggungan terjal
Dari langkah pertama aku mulai gerutu

"Di sini aku dilahirkan, 
di Negara yang kata mereka melimpah berkah dan kandungan harta
Secuil kata yang butakan logika
Aku berkaca pada petaka,
inikah si Bangsa kaya? 
ataukah panggung bisu untuk puaskan nafsu para pemain berlenggok tipu? 
Neraka kataku!

Sebatang jati yang tahun lalu ramai dihinggapi kenari,
masihkah menopang kuncup ranting  terakhir tuk sandaran lekat telapak katak dahan? 
Enyah itu nyatanya!"

Beringas merangkak keras, 
berbekal niat dan sekepal do'a
Sebagai wacana di tahun depan, aku perlahan lancangi waktu
Pelan dan pastikan langkahku pesat mendaki batu, 
turuni palung di atas gunung, 
juga sempat merayap di ladang gelap

Tujuku tak tentu
kadang ke barat
sering pula ke selatan

Heran,
tingkahku tak senada dengan putra bungsu setingkat pejabat di ibukota sekarat
Tak pula samai raut lugu pengemis tahta yang kelak bisa kelucuti udara hirupan para jelata
Mengajak kawan yang dikira samapun,
tapi entah di jalan ia berleha, 
berlagak rupa tak pernah beda
 wajar batinku, 
ketika yang ku pijak tak hasilkan nyata di kini,
tapi benakku berkata KELAK!

tak apalah

Kelanaku bimbang, 
ragu sekejap mendekap, 
patilnya menembus rasa tuaku
dengan berlagak sok tahu,
aku kendalikan bahu bumi dengan remas kepalku
tapi pula tak singkat
tetap waktu kembali mengurungku
Lalu, adakah cambuk untukku laju?


*11.12.10*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar